Yahh… dah 2 minggu di Surabaya, dah saatnya balik ke Malang…. ya itung2 liburan sekaligus njeguk Pacar yang lagi sakit gigi… Ok back to topic…
2 hari kemarin dah membuka mataku tentang kepercayaan yang di anut “manusia-manusia” tua dulu ternyata masih di pegang teguh oleh manusia jaman globalisasi… Kepercayaan Dinamisme dan Animisme yang disalah gunakan dan memper”budak” manusia yang katanya pintar…
“Kamu ngerti nggak klo warungku ini di santet orang biar daganganku ga’ ada yang beli, sekarang akhirnya jadi sepi… sepi banget.” *
“Jangan jualan di depan warungku, klo kamu jualan didepan warungku nanti ‘metengi’ warungku” *
* telah di terjemahkan ke dalam bahasa manusia pintar
Sebenarnya ga’ ada yang salah dengan keyakinan seseorang terhadap suatu agama mau kepercayaan dan sebagainya… tapi apakah suatu kepercayaan dapat digunakan sebagai alih-alih atau tameng untuk menutupi kekurangan dirinya sendiri hingga menyalahkan orang lain?
Klo ga’ laris mungkin aja gara-gara masakanya ga’ enak, gara-gara harga mahal…
Dan rejeki manusia sudah diatur oleh Tuhan YME tinggal kita aja yang berusaha untuk mendapatkannya… dan rejeki setiap orang ga’ akan tertukar dengan orang lain, betul???
sudah saatnya kepercayaan dinamisme dan animisme yang disalahartikan dan disalahgunakan itu diubah…. 

), kira-kira di Porong macet 1 jam… setelah nyampe Apollo pikiran dah plong dah bisa lewat penghalang terakhir… sampe hal yang tidak diinginkan terjadi!!!

















